”>
Sprei Katun Jepang Murah | Jual Grosir | Online |
Dua Dunia dalam Satu Piring

Jarum pendek jam menunjuk angka 11 ketika saya melangkah masuk ke restoran The Belly Clan di Gedung Intiland, Karet, Jakarta Selatan. Restoran berdinding putih dengan furnitur yang didominasi gradasi warna cokelat itu masih sepi. Beberapa pramusajinya juga lebih banyak menunggu di balik bar restoran.

Restoran yang dibuka sejak Oktober tahun lalu itu menawarkan sebuah petualangan sajian kuliner yang memadukan unsur Barat dan Timur. “Konsep ini sengaja dipilih karena kami ingin memberikan pengalaman yang tidak biasa kepada pengunjung,” ujar Wenny Sutedjo, Operational Site Manager The Belly Clan, Rabu lalu.

Karena konsep itu cukup berisiko, Belly Clan kemudian menggandeng Chef Hengky Efendy. Dia adalah seorang koki kepala yang telah berpengalaman bekerja dengan beberapa chef top dunia, termasuk Gordon Ramsay. “Agar pengunjung tidak bosan, setiap bulan kami juga memperkenalkan menu baru,” ujar Wenny.

Petualangan kuliner saya di Belly Clan dimulai dengan hidangan pembuka, Korean Beef Tortilla. Sesuai dengan namanya, menu yang satu ini adalah perkawinan sajian kuliner Korea dengan Meksiko. Dalam sajian itu, Meksiko menyumbangkan tortilla empuk untuk membungkus selada serta keju parmesan dan daging sapi berbumbu yang dibalut dengan wijen, yang umum dipakai dalam masakan Korea.

Bukan cuma itu, di atas piring juga diolesi gojuchang, saus khas Korea campuran cabai dan kedelai fermentasi yang sedikit pedas. Karena tidak terlalu neko-neko, ketika seluruhnya dikombinasikan, rasa tortilla ala Korea ini masih nyambung di lidah.

Hidangan utama pertama yang datang adalah Belly Clan Beef Bowl. Menu ini adalah paduan Korea dengan Jepang, relatif murni selera kuliner dari Timur. Keratan daging sapi yakiniku yang empuk diletakkan di atas nasi pera yang beraroma wangi karena berbumbu bawang putih dan ditaburi butiran wijen.

Sebagai pelengkapnya adalah sebutir telur rebus setengah matang yang kemudian digoreng dengan balutan tepung tipis. Saat telur dibelah, bagian kuningnya yang belum keras akan meleleh keluar.

Campuran antara sajian kuliner Barat dan Timur yang lebih kental terasa di hidangan utama kedua, yaitu Barramundi Sambal Matah Bali. Sajian ini dilengkapi potato au gratin, potongan kentang cukup tipis dengan campuran keju, serta krim dan susu yang melapisi tiap irisannya.

Kombinasi sambal matah dengan potato au gratin mungkin terasa sedikit aneh dan membuat kening berkerut. Tapi, setelah pesanan ini tiba, mungkin giliran kening orang Bali yang berkerut. Bagaimana tidak, sambal matah sejatinya dikuasai oleh rasa segar dan tajamnya aroma bawang merah serta pedasnya cabai rawit yang dirajang. Namun, dalam sambal matah di hidangan ini, cabai rawit dan bawang merah hanya secuil. Sebanyak 90 persennya merupakan irisan bawang bombay.

Toh, sambal matah yang tidak sesuai dengan pakem ini memang disengaja agar rasanya tidak terlalu “galak”. Rasa bawang bombay yang lebih lembut dibanding bawang merah serta rasa pedas yang sangat samar cukup klop bila dipadukan dengan potato au gratin yang creamy dan berkeju.

Adapun ikan air barramundi panggang disajikan secara matang, tapi tetap empuk dan juicy. Sayangnya, sambal matah bawang bombay tadi terasa “kurang nendang”, terlalu jinak bila dipadukan dengan gurihnya daging barramundi.

Untuk hidangan penutup, saya disarankan memesan Warm Bread and Butter Pudding with Butterscotch Sauce, yang merupakan unggulan The Belly Clan. Penampakan sajian ini tergolong sederhana. Cake hangat berwarna kecokelatan dengan tekstur yang mirip bolu tapi lebih empuk ditimpa dengan satu scoop es krim vanilla, dilengkapi siraman saus butterscotch di atasnya.

Sederhana dalam penampilan, tapi tidak dalam soal rasa. Hangatnya kue dan lembutnya es krim yang meleleh di mulut makin diperkaya dengan rasa saus butterscotch. Ketiga komponen ini sama-sama memiliki rasa manis tapi, untungnya, dicampur dalam takaran yang pas, sehingga satu porsi sajian ini tidak membuat enek.

Secara garis besar, harga makanan yang dibanderol restoran yang beroperasi mulai pukul 10 pagi hingga 12 malam pada hari kerja dan 10 pagi sampai 2 dinihari pada akhir minggu ini cukup sepadan dengan rasanya. Barramundi sambal matah, misalnya, dibanderol seharga Rp 75 ribu, Korean Beef Tortilla seharga Rp 50 ribu, dan Rp 45 ribu untuk Warm Bread and Butter Pudding. RATNANING ASIH